24 Orang Diduga Keracunan, Restoran Korea di Paskal 23 Bandung Ditutup untuk Diinvestigasi

Kontributor •
Bagikan Artikel:
📌 Ringkasan Berita:
  • Dinkes Kota Bandung mencatat 24 kasus dugaan keracunan makanan setelah warga mengonsumsi makanan dari restoran Korea di Paskal 23.
  • Gejala yang dialami para korban bervariasi, termasuk sakit perut, mual, muntah, dan diare, dengan waktu kemunculan gejala antara 2 hingga 12 jam setelah makan.
  • Pemeriksaan awal menunjukkan ada masalah higiene dan sanitasi di restoran, dan Dinkes memberikan rekomendasi perbaikan serta akan melakukan pemantauan lebih intensif.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mengonfirmasi bahwa terdapat 24 kasus dugaan keracunan makanan yang dilaporkan setelah sejumlah warga mengonsumsi makanan dari salah satu restoran Korea di kawasan Paskal 23.

Laporan Masuk ke Dinkes Kota Bandung

Laporan-laporan ini diterima melalui berbagai saluran hingga Selasa (6/10) sore, dan telah menarik perhatian banyak orang.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari, menjelaskan bahwa laporan tersebut berasal dari sejumlah puskesmas serta masyarakat yang menyampaikan informasi melalui kanal media sosial Dinkes.

“Kami juga masih update terus. Sampai tadi sore yang sudah terlaporkan kepada kami melalui berbagai jalur itu 24 kasus,” ungkap Dewi dalam keterangannya yang diterima pada Rabu (7/10).

Dewi menekankan bahwa angka tersebut masih dapat berubah, mengingat Dinkes masih membuka jalur pelaporan serta melakukan penelusuran terhadap laporan-laporan yang masuk.

Gejala dan Keluhan yang Dialami

Dari penelusuran awal, gejala yang dialami oleh warga yang melapor cukup bervariasi. Gejala paling cepat muncul hanya dua jam setelah mengonsumsi makanan, sementara yang paling lambat terjadi hingga 12 jam kemudian. 

Keluhan yang disampaikan oleh para korban antara lain sakit perut, mual, muntah, dan diare. Menanggapi hal tersebut, Dinkes Kota Bandung segera melakukan investigasi untuk menelusuri laporan-laporan tersebut. 

Hasil Investigasi di Lapangan

Tim Kesehatan Lingkungan dan Tim Reaksi Cepat langsung turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan di restoran yang dimaksud. Pemeriksaan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari penataan lokasi, peralatan, bahan makanan, hingga penerapan standar operasional prosedur (SOP).

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya beberapa aspek higiene dan sanitasi restoran yang perlu diperbaiki. “Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran,” kata Dewi. 

Salah satu permasalahan yang disoroti adalah penataan bahan makanan segar dan kering, yang seharusnya dipisahkan dari bahan kimia seperti cairan pembersih dan sabun pencuci piring. “Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang,” ujarnya.

Sorotan Atas SOP Dapur dan Rekomendasi

Dinkes juga menekankan pentingnya penerapan sistem penyimpanan yang benar, seperti first in, first out (FIFO) dan first expired, first out (FEFO), yang belum terlihat secara jelas di lokasi.

Perilaku penjamah makanan juga menjadi perhatian utama Dinkes. Dinkes meminta para pekerja yang terlibat dalam pengolahan dan penyajian makanan untuk menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti masker dan penutup rambut atau hair net. “Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net,” tuturnya. 

Dinkes telah memberikan sejumlah rekomendasi perbaikan kepada pengelola restoran. Selanjutnya, pemantauan akan dilakukan untuk memastikan bahwa rekomendasi tersebut ditindaklanjuti. 

Pengawasan pun akan melibatkan puskesmas, mengingat pentingnya pemantauan yang lebih intensif terkait laporan dugaan keracunan. “Biasanya kalau ada kasus seperti ini kita agak lebih intensif pemantauannya,” kata Dewi.

Kendala Proses Investigasi

Namun, proses investigasi masih menghadapi kendala karena pihak restoran tidak memiliki sampel makanan yang bisa diperiksa.

Padahal, kehadiran sampel tersebut sangat penting untuk mengetahui kemungkinan penyebab gangguan kesehatan yang dialami warga. “Idealnya itu seharusnya ada pemeriksaan sampel, tetapi ternyata restoran ini tidak menyimpan sampel. Jadi tadi masih sebatas edukasi,” ujar Dewi.

Tim Dinkes juga telah melakukan investigasi langsung terhadap pengelola restoran dan konsumen yang melaporkan mengalami gangguan kesehatan. Kondisi para pelapor turut ditelusuri, dan mereka disarankan untuk mendapatkan pemeriksaan medis demi memastikan keselamatan mereka.

Dengan adanya laporan ini, masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap kebersihan dan keamanan makanan yang dikonsumsi, terutama saat makan di luar. Dinkes Kota Bandung berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan dan penelusuran agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.


Sumber: m.kumparan.com (07/10/2026)
Lanjutkan membaca
Bagikan Artikel:
Bahan Post Instagram
Sedang merender card cover...