
- Gangguan jaringan internet M.net selama tiga hari berdampak besar pada kafe-kafe di Bandung, terutama di area kuliner Saparua, yang biasanya ramai pengunjung.
- Pelaku usaha mengeluhkan penurunan omset dan kesulitan dalam sistem pembayaran, terpaksa kembali menggunakan metode kasir manual.
- Pekerja kreatif, seperti freelancer, mengalami kerugian materiil karena tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu akibat hilangnya akses internet yang stabil.
Kelumpuhan jaringan internet fiber optic dari M.net yang terjadi selama tiga hari di Bandung bikin banyak pelaku usaha dan komunitas 'work from cafe' merasakan dampaknya.
Dampak Serius pada Ekonomi Lokal
Menyimak pemberitaan dari bandungkita.id pada 11/07/2026, jaringan internet yang dulunya dianggap sekadar layanan tambahan kini jadi sangat penting buat operasional bisnis, terutama bagi kafe-kafe di Kota Kembang.
Salah satu kawasan yang paling terdampak adalah area kuliner sekitar Saparua, yang biasanya ramai oleh freelancer dan profesional yang bekerja di kafe, kini jadi sepi.
Kehilangan Momentum 'Jam Sibuk' Sore Hari
Dampak ini diakui oleh para pelaku usaha yang merasakan perubahan langsung dalam pengunjung mereka.
"Banyak banget pelanggan kafe kami yang sebenarnya ke sini buat Work from Cafe. Biasanya, sore-sore itu jam paling ramai. Mereka berbondong-bondong datang ke sini bawa laptop setelah bosan di rumah atau kantor," ujar salah satu pelayan kafe di sekitar Saparua.
"Tapi sejak Mnet gangguan tiga hari ini, omset drop. Begitu mereka tahu Wi-Fi mati, mereka langsung balik kanan. Jam-jam sore yang harusnya jadi puncak pendapatan kami, sekarang malah sepi," lanjutnya dengan nada kecewa.
Efek Domino: Sistem Kasir Manual dan Gagal QRIS
Masalah mati jaringan juga bikin sistem manajemen kafe terganggu, karena mereka harus kembali ke metode kasir manual.
Asep Sunandar (25), Barista & Kasir Kafe, menyampaikan, "Kami terpaksa pakai catatan kertas manual lagi kayak zaman dulu. Ribet banget kalau lagi jam sibuk. Belum lagi urusan pembayaran. Sekarang kan hampir 80% konsumen di Bandung itu pakai QRIS atau debit. Karena internetnya mati, mesin EDC sering Time Out dan QRIS-nya tidak terdeteksi sistem. Antrean jadi menumpuk dan banyak pelanggan yang komplain."
Kerugian Nyata Komunitas Pekerja Kreatif
Bagi para pekerja remote, ini bukan sekadar masalah kecil, melainkan ancaman langsung terhadap pendapatan mereka.
Gilang Ramadhan (23), Freelance Graphic Designer, mengatakan, "Saya sengaja nyari kafe buat ngejar deadline klien luar negeri. Pas tahu Wi-Fi massal ini mati, saya bingung. Pakai tethering HP pun sinyal seluler di dalam ruangan sering tidak stabil. Kalau kerjaan delay, reputasi saya di platform freelance taruhannya. Ini kerugian materiil yang nyata bagi kami."
Desakan Transparansi dan Kompensasi
Warga net menilai bahwa gangguan yang berlangsung hingga tiga hari tanpa tindakan dari pihak M.net menunjukkan bahwa pelayanan publik digital mereka kurang memadai.
Kesimpulannya, kelumpuhan jaringan ini memberi dampak besar bagi pelaku usaha dan pekerja kreatif di Bandung.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: bandungkita.id (11/07/2026)