
- Klaim BPJS Kesehatan di Jawa Barat mencapai Rp29,3 triliun, melebihi total iuran yang hanya Rp24,3 triliun, dengan selisih sekitar Rp5 triliun.
- Jawa Barat memiliki beban pembiayaan kesehatan terbesar di Indonesia, namun sistem gotong royong BPJS Kesehatan memastikan daerah dengan iuran lebih tinggi membantu daerah lain.
- Jumlah peserta aktif BPJS Kesehatan di Jawa Barat mencapai 38,7 juta jiwa, dan tantangan pembiayaan kesehatan juga dialami secara nasional dengan defisit antara klaim dan iuran yang terus berlangsung.
Provinsi Jawa Barat baru aja mencatat angka klaim BPJS Kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan total iuran peserta selama 2025, dan ini menarik perhatian banyak orang.
Data Klaim dan Iuran di Jawa Barat
Mengutip pemberitaan dari radarbandung.id pada 10/07/2026, total iuran yang terkumpul di Jawa Barat mencapai Rp24,3 triliun, sementara biaya klaim pelayanan kesehatan mencapai Rp29,3 triliun.
Artinya, ada selisih sekitar Rp5 triliun antara iuran yang terkumpul dan klaim yang dibayar.
Lula Kamal, Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, menjelaskan bahwa Jawa Barat memiliki beban pembiayaan kesehatan terbesar karena populasi penduduk yang paling banyak di Indonesia.
Prinsip Gotong Royong dalam JKN
Lula menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir karena BPJS Kesehatan tidak menghitung keseimbangan keuangan berdasarkan provinsi masing-masing.
Sistem gotong royong jadi fondasi utama BPJS Kesehatan, dimana daerah dengan iuran lebih besar bakal membantu daerah lain yang nilai klaimnya lebih tinggi.
Dia juga cerita tentang keluhan dari kepala daerah di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, yang merasa iurannya lebih besar dibandingkan manfaat yang diterima.
Namun, Lula menyatakan bahwa sistem ini memang dirancang untuk saling menopang antardaerah, dan "Dia mau melepaskan diri, kita enggak kasih karena ada undang-undangnya," katanya.
Jumlah Peserta BPJS Kesehatan
Berdasarkan data per 1 Juni 2026, jumlah peserta BPJS Kesehatan di Jawa Barat tercatat mencapai 51.156.787 jiwa, dengan 38.733.440 peserta yang aktif.
Ini menyebabkan fasilitas kesehatan di Jawa Barat menangani volume layanan yang sangat tinggi, berdampak langsung pada nilai klaim yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan.
Tantangan Pembiayaan Kesehatan
Lula juga menyoroti bahwa tantangan pembiayaan tidak hanya terjadi di Jawa Barat, tetapi secara nasional, biaya pelayanan kesehatan sepanjang 2025 mencapai Rp191,33 triliun.
Di sisi lain, pendapatan iuran yang terkumpul adalah Rp176,72 triliun, jadi pembiayaan kesehatan masih menghadapi tekanan.
Dia menekankan pentingnya dukungan dari seluruh peserta untuk keberlanjutan Program JKN, baik dari kepatuhan membayar iuran maupun meningkatnya kesadaran menjaga kesehatan.
Semakin sedikit orang yang jatuh sakit, maka beban biaya pelayanan kesehatan pun dapat ditekan.
Selain itu, BPJS Kesehatan juga terus mendorong program promotif dan preventif, termasuk skrining kesehatan dan Cek Kesehatan Gratis (CKG), agar penyakit bisa terdeteksi dini.
Lula berharap masyarakat bisa memahami selisih antara iuran dan biaya klaim di BPJS Kesehatan.
Dengan informasi ini, penting untuk kita semua memahami bagaimana sistem kesehatan ini berjalan dan saling mendukung. Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: radarbandung.id (10/07/2026)