Bupati dan Ketua DPRD Bandung Siapkan Rencana Besar dengan 21 Jenderal Energi

Kontributor
Bagikan Artikel:

Situasi lingkungan di Kabupaten Bandung lagi jadi sorotan nih, karena ada ancaman bencana ekologis yang bikin banyak pihak harus bergerak cepat.

Rapat Koordinasi Khusus di Gedung Moch Toha

Menyimak pemberitaan dari bandungkita.id pada 09/06/2026, Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Hj. Renie Rahayu Fauzi, hadir dalam Rapat Koordinasi Khusus (Rakhussus) yang diadakan di Gedung Moch Toha, Kompleks Pemkab Bandung, pada Selasa kemarin.

Rapat ini diinisiasi oleh Bupati Bandung, Dr. H.M. Dadang Supriatna, untuk merumuskan strategi penanganan banjir, persiapan menghadapi kemarau panjang, dan masalah limbah di Kabupaten Bandung.

Kolaborasi Antara Berbagai Pihak

Rakhussus ini jadi ajang kolaborasi antara eksekutif, legislatif, aparat penegak hukum, TNI/Polri, dan puluhan pemangku kepentingan strategis lainnya.

Tampak hadir juga dalam undangan itu, Kapolresta Bandung, Dandim 0624/Kabupaten Bandung, Kepala BBWS Citarum, dan beberapa perusahaan energi nasional seperti PT Pertamina Geothermal Energi dan Indonesia Power.

Fokus pada Normalisasi Sungai

Menurut laporan, Kabupaten Bandung baru saja mengalami cuaca ekstrem yang mengakibatkan luapan Sungai Citarum merendam kawasan padat seperti Dayeuhkolot dan berdampak pada lebih dari 21 ribu warga.

Isu yang juga dibahas adalah percepatan normalisasi Sungai Cisunggalah di Kecamatan Solokanjeruk, yang sering jadi pemicu banjir.

Mengutip program pentahelix yang diusulkan Bupati Bandung untuk penanganan Sungai Cisunggalah, saat ini sedang dikebut menjelang musim kemarau.

Renie Rahayu Fauzi pun mengapresiasi inisiatif Bupati yang cepat mengumpulkan semua pihak terkait dalam rapat ini.

"Kami di legislatif memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiasi cepat Bapak Bupati dalam mengumpulkan seluruh pemangku kepentingan hari ini. Langkah mitigasi ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah daerah hadir di tengah kecemasan warga. Rakyat hari ini merindukan kepastian dan aksi konkret, dan apa yang terus ditunjukkan oleh Pak Bupati di lapangan wajib kita dukung penuh secara politik anggaran, agar normalisasi hulu sungai dan pembangunan infrastruktur banjir bisa selesai tepat waktu," ujar Renie.

Ancaman Kemarau dan Persoalan Sampah

Selain banjir, rapat ini juga membahas langkah-langkah antisipasi menghadapi kemarau panjang yang bisa bikin krisis air bersih dan menurunkan produktivitas pertanian.

Kerja sama dengan BBWS Citarum dan perusahaan geothermal di kawasan hulu jadi kunci untuk menjaga stabilitas air dan ketahanan pangan.

Namun, ada juga masalah sampah yang makin mendesak, di mana TPA Sarimukti hanya bisa menampung sampah maksimal 3-4 bulan lagi.

Kabupaten Bandung sedang berupaya menyelesaikan masalah ini karena volume sampah se-Bandung Raya kini mencapai 1.700 ton per hari.

Renie menekankan betapa pentingnya kerja sama untuk mengatasi tantangan lingkungan ini.

Jadi, apa pendapat kamu tentang langkah-langkah ini? Yuk, share di kolom komentar!




Sumber: bandungkita.id (09/06/2026)
Lanjutkan membaca
Bagikan Artikel:
Bahan Post Instagram
Sedang merender card cover...